holocaust-memorial-1221169 (1)

Hannah Arendt tentang Banalitas Kejahatan

Hingga hari ini, para pemuja dan penjilat Orde Baru masih hidup di antara kita, bahkan masih berkuasa. Mereka ini tidak melihat kejahatan pembantaian massal 1965-1966 sebagai kesalahan yang butuh tanggung jawab moral dan permintaan maaf secara publik. Bagi mereka, itu bukan kejahatan, itu prestasi. Di situ, kejahatan politis dalam sebuah sistem yang totaliter menyimpan teka-teki yang sulit dipecahkan. Filsuf perempuan berdarah Yahudi, Hannah Arendt, seorang yang menyaksikan jutaan orang Yahudi dibantai Hitler, yang diuber-uber di Jerman lalu cari suaka di AS, berupaya memecahkan teka-teki itu dengan mengajukan konsepnya yang terkenal, yaitu banalitas kejahatan.

Politik kekuasaan, di mana dan kapan saja, selalu dibayang-bayangi oleh pemakaian kekerasan dan berbagai strategi kejahatan. Sejarah bangsa-bangsa, termasuk sejarah politik di Indonesia adalah sejarah penuh genangan darah. Demokrasi yang kita nikmati sejak Reformasi adalah sebuah kegembiraan sipil yang sesungguhnya menari ria di atas puing-puing korban kejahatan dan pembantaian massal di masa lalu.

Namun, perlu selalu diingat, selama ada politik kekuasaan, selama itu pula kegembiraan demokrasi selalu dibayang-bayangi ancaman kejahatan. Pikiran yang selalu waspada dan kritis adalah vaksin bagi demokrasi menghadapi ancaman ini yang bisa pecah kapan saja. Pertanyaan kita adalah apakah para pelaku kejahatan atau dalang di baliknya adalah sejenis monster yang haus darah dan psikopat yang sakit jiwa? Kita umumnya menjawab ya.

Baca Juga Bulshit Needs dan Kegelisahan Ruang Sosial Kita

Namun, jawaban itu tidak menyentuh teka-teki kejahatan politis dan ideologis yang mengorbankan jutaan nyawa manusia secara sistematis dan tidak menimbulkan rasa bersalah apapun pada pelakunya. Hingga hari ini, para pemuja dan penjilat Orde Baru masih hidup di antara kita, bahkan masih berkuasa. Mereka ini tidak melihat kejahatan pembantaian massal 1965-1966 sebagai kesalahan yang butuh tanggung jawab moral dan permintaan maaf secara publik. Bagi mereka, itu bukan kejahatan, itu prestasi. Di situ, kejahatan politis dalam sebuah sistem yang totaliter menyimpan teka-teki yang sulit dipecahkan. Filsuf perempuan berdarah Yahudi, Hannah Arendt, seorang yang menyaksikan jutaan orang Yahudi dibantai Hitler, yang diuber-uber di Jerman lalu cari suaka di AS, berupaya memecahkan teka-teki itu dengan mengajukan konsepnya yang terkenal, yaitu banalitas kejahatan.

Memahami Banalitas Kejahatan

Istilah “banalitas kejahatan” diperkenalkan oleh Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil” (1963). Buku ini adalah laporan Arendt yang semula diterbitkan majalah The New Yorker tentang proses pengadilan di Yerusalem pada 1961 terhadap seorang terdakwa, Eichmann. Eichmann adalah tokoh kunci dalam deportasi orang-orang Yahudi dari Jerman dan Negara-negara sekitarnya ke kamp-kamp konsentrasi selama Perang Dunia II. Istilah “banalitas kejahatan” hanya disebutkan satu kali dalam buku tersebut, yaitu pada halaman terakhir. Meski demikian, istilah ini sangat sentral karena menyimpulkan seluruh isi buku. Dengan kata lain, istilah ini tersirat dalam keseluruhan isi buku itu.

Banality of evil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kedangkalan kejahatan”.  Mengapa kejahatan itu dangkal? Inilah salah satu pertanyaan kunci yang digeluti Arendt dalam buku tersebut. Arendt sampai pada sebuah tesis fundamental: “Banalitas kejahatan adalah ketidakmampuan mengenali kejahatan sebagai kejahatan, yang disebabkan oleh sheer thoughtlessness, ketidakberpikiran”. [1] Bagaimana Arendt bisa sampai pada tesis tersebut? Untuk memahami tesis banalitas kejahatan itu, kita perlu masuk ke dalam analisisnya tentang Eichmann.

Laporan Arendt tentang Eichmann mengejutkan: Eichmann adalah sosok penjahat birokrasi Negara yang cemerlang, tetapi dangkal. Dia terlihat normal, jauh sekali dari kesan jahat. Setengah lusin psikiater membuktikan kebenaran pernyataan Arendt: “Seluruh pandangan psikologis Eichmann, sikapnya terhadap isteri, anak-anak, kerabat, teman, tetangga dan orang-orang yang mengenalnya, bukan saja normal, tetapi kebanyakan disukai.” Seorang menteri yang pernah mengunjunginya memberi kesan bahwa “Eichmann adalah seorang pria dengan ide-ide yang sangat positif.” [2]

Baca Juga Reproduksi Ruang dan Kemaslahatan Bersama: Kritik atas Kapitalisme Neoliberal sebagai Sebab Pokok Kejahatan Kemanusiaan

Atas dasar itu, Arendt berani mengatakan bahwa Eichmann bukanlah “seseorang yang memiliki labirin batin yang gelap atau bajingan kotor dalam hatinya.” [3] Arendt menjungkirbalikkan seluruh penilaian tentang Eichmann sebagai “seorang pria yang terobsesi dengan sesuatu yang berbahaya dan dorongan tak terpuaskan untuk membunuh, kepribadian yang sesat dan berbahaya.” [4] Eichmann bukan personifikasi dari kebencian, kegilaan, pribadi haus darah. Tidak ada pemikiran fanatis yang terucap dari mulutnya atau aura kejam yang berpendar di wajahnya. Sebaliknya, dia adalah warga Negara yang patuh pada hukum dan tidak memiliki kebencian terhadap orang-orang Yahudi.

Gagasan Arendt mematahkan anggapan umum tentang kejahatan. Kejahatan selalu dipandang sebagai kebrutalan yang menyeruak dari hati yang penuh api kebencian dan nafsu jahat atau pandangan bahwa pelaku pembunuhan adalah orang sakit jiwa atau sesosok monster yang menakutkan. Arendt menunjukkan hal yang mengejutkan: kejahatan bisa dilakukan oleh manusia yang biasa-biasa saja atau sebagian malah kelihatan saleh, rajin berdoa, taat pada agama, lugu, dan patuh.

Bagi Arendt, kejahatan bukan sesuatu yang melekat dalam kodrat manusia. Seperti kebaikan, kejahatan berkaitan dengan kemampuan manusia. Kejahatan bukan “a demonic nature, but capacity”. Berabad-abad para filsuf dan teolog berdebat tentang apakah hakikat manusia itu baik atau jahat. Arendt menghentikan perdebatan itu dengan memperlihatkan bahwa kejahatan, seperti kebaikan, terletak pada “kapasitas” manusia.

Lalu, mengapa orang-orang seperti Eichmann, termasuk para teroris, yang terlampau normal, disukai atau sebagian malah kelihatan saleh, justru dapat melakukan kejahatan? Di bagian akhir bukunya, Arendt memberi sebuah jawaban yang lugas atas pertanyaan itu: “Hanya kekurangan imajinasi dan ketidakberpikiran, yang sama sekali tidak identik dengan kebodohan, adalah hal yang menyebabkan Eichmann menjadi salah satu dari penjahat terbesar pada periode itu.” [5]

Baca Juga Ruang Angkasa dan Kapitalisme

Kejahatan, menurut Arendt, tidak perlu dilakukan oleh orang yang berhati iblis. Orang-orang biasa pun akan melakukannya ketika mereka tak lagi berpikir dan berimajinasi tentang kengerian yang dialami korban. Dalam The Life of Mind, Arendt memaklumkan: “Banalitas itu tersingkap dalam aneka bentuk kedurjanaan. Muasal kedurjanaan bukan makhluk jahat, bukan hati manusia, bukan juga labirin gelap bernama the unconscious (ketaksadaran). Orang bertindak durjana karena ketidakberpikiran dan miskin imajinasi”. [6]

Apa itu ketidakberpikiran? Menurut Arendt, ketidakberpikiran adalah ketidakmampuan melakukan dialog batin untuk mengkaji tindakan yang hendak dan telah dilakukan, sehingga orang gagal mengenal hakikat kejahatan dan gagal menyelidiki secara kritis premis-premis sebuah ideologi atau keyakinan. Ketidakberpikiran identik dengan ketiadaan kesadaran diri, refleksi, dan makna. Atas dasar itu, Arendt menyebut orang-orang yang tak berpikir mirip “sleepwalker” (orang yang berjalan sambil tidur). [7]

Ketidakberpikiran dapat pula dipahami sebagai ketidakmampuan menyadari dan memahami (bukan sekadar mengetahui) realitas secara keseluruhan sehingga tidak dapat memberikan penilaian yang tepat. Artinya, ketidakberpikiran adalah kegagalan untuk menilai dan membedakan mana yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk, dan yang indah dari yang jelek. [8]

Namun, Arendt menegaskan, ketidakberpikiran bukanlah ketidaan hati nurani, melainkan ketidakmampuan melakukan dialog dengan hati nurani. Orang-orang yang tidak “berdialog dengan dirinya” mudah terjebak dalam kompromisme buta dengan suatu ideologi teror dan totaliter. Dalam konteks ini, menurut Arendt, ketidakberpikiran Eichmann bukan bawaan, melainkan produk ideologi totaliter dan hegemoni birokrasi Nazi.

Baca Juga Marxisme, Materialisme, dan Seni

Meski demikian, ketidakberpikiran selalu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, pada manusia jenis apapun, ketika seseorang tidak melakukan dialog batin dengan dirinya sendiri, tidak mampu mengambil jarak dari sistem, atau tidak melatih kemampuannya menilai kenyataan dengan benar. Dengan demikian, Arendt menggambarkan ketidakberpikiran sebagai kegagalan hati nurani, sebagai ideologi, dan kondisi sehari-hari. [9] Jadi, dapat disimpulkan, ketidakberpikiran adalah ketiadaan daya pertimbangan baik moral maupun rasional.

Berdasarkan pemahaman tersebut, Arendt menjelaskan dua arti dari “ketidakberpikiran” Eichmann yang mempengaruhi Eichmann melakukan kejahatan. Pertama, ketidakberpikiran Eichmann adalah  kegagalannya mengeksaminasi atau menguji alasan-alasan atau premis-premis dasar mengapa dia harus terlibat dan untuk apa orang-orang Yahudi dideportasi ke Auschwitz. Ketidakberpikiran membuatnya terlibat dalam kesepakatan jahat melawan kemanusiaan. Kedua, ketidakberpikiran Eichmann adalah kompromisme dan obsesi buta terhadap ide atau teori yang menyebabkan dia tidak mampu memahami realitas sebenarnya. Dia terobsesi dengan ideologi Nazi tentang menjadi penguasa segalanya, tanpa ada usaha memahaminya dan mengambil jarak kritis. [10]

Ketidakberpikiran identik dengan sifat dangkal kejahatan. Sebaliknya, berpikir selalu radikal, sebab berpikir adalah upaya memahami yang bersifat “spontan, penuh perhatian menghadapi kenyataan, apapun itu.[11] Orang yang berpikir adalah orang yang sanggup memahami hakikat kenyataan. Karakter radikal berpikir identik dengan sifat radikal kebaikan. Oleh karena itu, menurut Arendt, hanya kebaikan yang memiliki kedalaman. Kebaikan bisa radikal, tetapi kejahatan tidak akan pernah bisa radikal. Kejahatan bisa menjadi ekstrem karena tidak memiliki kedalaman ataupun dimensi iblis. [12] Gagasan ini adalah titik balik Arendt. Dalam The Origins of Totalitarianism, Arendt masih percaya pada konsep teologi Kristen tentang kejahatan radikal Nazi sebagai karya iblis atau konsep Kantian tentang kejahatan radikal sebagai akibat dari niat jahat yang merusak dasar-dasar kewajiban moral. [13]

Baca Juga Eric Wolf tentang Kebudayaan dan Kapitalisme

Dalam Eichmann in Jerusalem, Arendt memahami kejahatan secara baru: kejahatan tidak radikal, hanya bisa ekstrem, tetapi sifatnya tetap dangkal karena dia lahir dari ketidakberpikiran. Dengan kedangkalan ekstrem itu, kejahatan bisa dengan mudah tumbuh dan menyebar bagai jamur, menghancurkan seluruh dunia. Orang akan terus melakukan kejahatan ketika dia menentang pikirannya sendiri untuk memeriksa hakikat tindakan jahatnya, premis-premis, karakter, akibat, dan dari mana asalnya. Kejahatan terus merambah justru ketika orang melakukannya tanpa pernah bertanya mengapa harus melakukannya. Para pelaku pembantaian massal selama 1965/1966, misalnya, tidak pernah bertanya mengapa mereka harus membunuh, atau sekadar mempertimbangkan bahwa jangan-jangan isu penuntasan Partai Komunis Indonesia (PKI) hanyalah permainan politik kekuasaan para elite di pusat. Di tengah keterbatasan teknologi informasi, isu kudeta, penculikan atau pembunuhan tujuh jenderal oleh PKI itu dengan mudah dipercaya oleh sebagian masyarakat sipil di daerah dan pelosok-pelosok. Bak jamur di musim hujan, kebencian pun tumbuh dan menyebar dengan begitu cepat ke seluruh penjuru negeri.

Sekali lagi, kejahatan amat mudah menyebar ketika pikiran kritis untuk bertanya mengapa harus bertindak jahat telah mati. Ketidakmampuan bertanya atau berpikir kritis ini bukan bawaan, melainkan produk rezim totaliter. Inilah bentuk ketidakberpikiran yang dimaksud Arendt, yang menjelaskan mengapa kejahatan rezim totaliter dalam dunia modern menyebar dengan cepat dan menimbulkan begitu banyak korban.

Ketidakberpikiran juga identik dengan ketiadaan imajinasi. Orang yang tak berpikir adalah orang yang tidak imajinatif. Ketiadaan imajinasi menyebabkan seseorang gagal menilai konsekuensi tindakannya dan membayangkan akibat-akibat negatif yang mungkin dialami orang lain karena perbuatannya. Sama seperti Eichmann, orang yang tidak imajinatif mudah menjadi pribadi yang “hollow” (hampa) karena dia tidak mengerti apa yang dibuatnya dan tidak mampu mengantisipasi akibat destruktif tindakannya bagi orang lain. Dengan kata lain, pelaku kejahatan ialah “manusia hampa, yang telah dikosongkan dari apapun yang membedakan manusia sebagai manusia, dan konsekuensi dari tindakan manusia hampa inilah yang disebut banalitas, suatu ketidakberpikiran belaka.” [14]

Baca Juga Korona, Kiamat Kapitalisme? Catatan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”

Dapat dikatakan, kejahatan adalah sesuatu yang riil, yang dapat dilakukan oleh semua orang yang tidak mempunyai kemampuan bertindak dan berpikir. Arendt menyatakan: “Kenyataannya adalah bahwa kaum Nazi itu orang-orang biasa seperti kita, mimpi buruk yang mereka tunjukkan, membuktikan apa yang dapat dilakukan oleh semua manusia.” [15]

Arendt memahami evil (kejahatan) sebagai tindakan melawan kemanusiaan. Pemahaman ini tentu tidak baru. Apa yang baru pada Arendt ialah pandangan bahwa akar kejahatan terletak pada ketidakberpikiran dan ketiadaan imajinasi. Dengan menempatkan ketidakberpikiran dan ketiadaan imajinasi sebagai akar kejahatan, Arendt menolak konsep metafisis tentang kejahatan yang diperdebatkan dalam sastra, filsafat, dan teologi.

Pertama, Arendt menolak konsep metasifis Agustinus. Menurut Agustinus, kejahatan/malum adalah privatio boni (kekurangan dari kebaikan). Mengambil alih pandangan Plato bahwa segala sesuatu yang ada adalah baik, Agustinus menyimpulkan bahwa malum hanyalah “kekurangan dari kebaikan”. Yang utama tetaplah kebaikan itu sendiri. Heidegger juga setuju dengan Agustinus dan menegaskan bahwa kejahatan adalah “nothingness”, negasi dari Being. [16] Pandangan ini dapat menyebabkan “depotensiasi ontologis” terhadap kejahatan. [17] Artinya, kejahatan disepelekan yang membuat kekuasaannya makin luas. Gagasan ini juga tidak mengatakan apa-apa tentang kejahatan (malum morale) sebagai sesuatu yang berasal dari manusia dan menjadi tanggung jawab manusia.

Kedua, Arendt juga menolak gagasan kejahatan sebagai kehendak yang jahat. Kant mengembangkan gagasan ini. Menurut Kant, ada kecenderungan jahat dalam diri manusia untuk menentang hukum moral yang dihasilkannya sendiri, yang disebutnya sebagai propensitas. [18]

Baca Juga Pembentukan Badan Bank Tanah: Ancaman Liberalisasi dan Perampasan Tanah Rakyat atas Nama Pengadaan Tanah untuk Investor

Menurut Arendt, dua model gagasan metafisis tentang kejahatan tersebut tidak bisa menyingkap asal-usul kejahatan politis dan sistematis seperti yang ditunjukkan Nazi. Kejahatan rezim totaliter Nazi bukanlah manifestasi eksternal dari kecenderungan jahat dan privatio boni, bukan “sesuatu yang bersifat demonik, melainkan sesuatu yang sungguh-sungguh biasa dan dapat terjadi di mana-mana”. [19] Eichmann dan para penjahat Nazi lainnya adalah orang-orang biasa. Satu-satunya hal yang membuat mereka melakukan kejahatan ialah ketidakmampuan berpikir kritis dan ketiadaan imajinasi.

Pertanyaannya, mengapa mereka gagal berpikir? Apa kondisi yang membuat mereka menjadi pribadi yang jahat? Bagi Arendt, kondisi yang sungguh-sungguh menjelaskan mengapa orang-orang seperti Eichmann melakukan kejahatan adalah keadaan sosial dan politik, dan bukan kondisi psikologis mereka. Keadaan sosial dan politik yang dimaksud ialah totalitarianisme.

Banalitas Kejahatan dan Totalitarianisme

Ketidakberpikiran dan ketiadaan imajinasi Eichmann mengungkapkan sifat khas kejahatan Nazi itu sendiri. Dalam sistemnya yang tertutup yang dijalankan secara patologis, Nazi telah berhasil mengubah seluruh tatanan hukum, meruntuhkan totalitas moral, dan membuat kesalahan dan kejahatan menjadi dasar dari suatu “kebenaran” baru. Nazi menghancurkan karakter istimewa kejahatan dengan mendefinisikannya sebagai norma sipil. Suatu tindakan disebut jahat hanya jika menentang rezim. Dalam sistem Nazi yang mengaburkan batas-batas moral kejahatan dan kebaikan, Eichmann (mungkin seperti Pol Pot empat dekade kemudian) tidak mampu lagi mengenali kejahatan sebagai kejahatan.

Kegagalan Eichmann mengenal kejahatan sebagai kejahatan, pembelaan dirinya selama persidangan, dan ketidakmampuannya berpikir kritis perlu dipahami dalam kaitan dengan totalitarianisme. Menurut Arendt, perjuangan untuk dominasi total adalah karakter inheren totalitarianisme dan rezim totaliter. Rezim totaliter tak hanya menguasai massa, tetapi juga individu dalam seluruh privasi dan individualitasnya. [20] Pikiran, imajinasi, dan bahkan suara hati—hal-hal yang sangat privat—dapat dikontrol rezim totaliter. Di bawah dominasi total, individu-individu yang dicerabut dari individualitasnya menjadi kumpulan massa yang mengambang. Dengan demikian, totalitarianisme menghilangkan keunikan manusia-manusia.

Menurut Arendt, di dalam rezim totaliter Nazi “individualitas, apapun yang membedakan satu orang dengan yang lain, tidak bisa ditoleransi. Selama tidak semua manusia dibuat sama, cita-cita rezim totaliter belum tercapai”. [21] Itu berarti, totalitarianisme melenyapkan pluralisme dan “ruang antara” (kebebasan) yang memungkinkan komunikasi dan pikiran kritis. Setiap kritik dan perlawanan akan dibungkam, sehingga terbentuklah orkes pembungkukan dan kepatuhan yang menggerakkan suatu megamachine bernama rezim totaliter.

Baca Juga Agama dan Demokrasi dalam Tinjauan Rasionalisme Kritis Karl Popper dan Rasio Komunikatif Jürgen Habermas

Kondisi ini terungkap dalam pembelaan Eichmann bahwa dia, seperti banyak penjahat Nazi lainnya, hanyalah cog (roda penggerak) dalam sistem birokrasi Nazi. Sebagai cog, dia bekerja demi sebuah kewajiban, loyalitas, dan kepatuhan kepada tujuan tertinggi birokrasi Nazi. Dengan kata lain, sebagaimana Arendt, setiap pribadi sebagai sebuah cog dalam mesin birokrasi dapat dikorbankan tanpa mengubah sistem, sebuah asumsi yang juga berlaku dalam hampir semua birokrasi dan Negara modern. [22]

Dengan asumsi ini, Eichmann tidak melihat dirinya sebagai “orang berhati jahat”. Dia memiliki hati yang buruk hanya jika dia tidak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Selama persidangan, Eichmann mempertahankan bahwa apa yang dilakukannya bukanlah kejahatan, melainkan “tindakan Negara, di mana tidak ada Negara lain yang memiliki yurisdiksi serupa (par in parem imperium non habet), yang menjadi kewajibannya untuk mematuhinya.” [23] Dengan demikian, Eichmann menjungkirbalikkan sifat moral kejahatan menjadi sebuah normalitas, “the act of state”.

Dengan penjungkirbalikan itu, dia bukan saja merasa tidak bersalah, melainkan juga merasa telah melakukan sesuatu yang mulia, yaitu menjadi warga Negara yang taat hukum dan setia pada tugas. Tidaklah mengherankan, jika dia bersikap seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terfokus pada meniti karir. Oleh karena itu, Arendt menyebutnya sebagai “setan yang teramat dangkal”. Jelas ia bukan setan, melainkan seorang birokrat yang lugu. Di sinilah kita bisa memahami sisi lain banalitas kejahatan, yaitu sebuah situasi di mana standar kesalahan moral sebuah kejahatan telah dihancurkan oleh sebuah normalitas atau anggapan bahwa itu sama sekali bukan kejahatan, melainkan sesuatu yang wajar bahkan mulia.

Baca Juga Kekerasan Negara dan Politik Kematian: Refleksi Akademis atas Konflik di Papua

Benar perkataan bahwa lebih banyak kejahatan dilakukan atas nama kepatuhan daripada pembangkangan. Bagi Eichmann, kepatuhan bukan sekadar sebuah nilai, melainkan sikap demi kemajuan karirnya atau demi promosi untuk jabatan yang lebih tinggi. [24] Dengan sangat mengejutkan, Eichmann mendasarkan rasa kewajiban dan loyalitasnya terhadap ideologi dan sistem partai Nazi pada filsafat Kant. Menurutnya, dia telah menjalankan seluruh hidupnya menurut ajaran moral Kant tentang kewajiban. Dia memberikan definisi yang kurang lebih benar dari sudut pandang imperatif kategoris: “Yang saya maksudkan dengan ucapan saya tentang Kant ialah prinsipnya bahwa keinginan saya harus selalu menjadi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu hukum umum”. [25] Tentu saja, dengan gampang kita bisa menilai bahwa Eichmann salah membaca prinsip moral Kant sebab filsafat moral Kant terkait erat dengan daya penilaian manusia, yang berarti melawan kepatuhan buta dan sikap tidak kritis. 

Arendt sampai pada sebuah pemikiran yang sangat kontroversial bahwa di bawah rezim totalitarian Nazi, Eichmann sesungguhnya adalah seorang korban. Arendt menulis: “Kesalahannya terletak pada kepatuhannya, dan kepatuhan adalah sebuah kebajikan. Kebajikan ini telah disalahgunakan oleh para pemimpin Nazi. Dia bukanlah salah satu dari kelompok penguasa, dia adalah korban, dan hanya para pemimpin yang pantas dihukum.” [26] Gagasan Arendt masuk akal. Seluruh keyakinan Eichmann adalah hasil indoktrinasi dan cuci otak Nazi. Eichmann hanyalah pegawai Nazi yang setia menjalankan tugas. Dia juga bukan intelektual Nazi, tetapi hanyalah teknokrat yang mampu merancang kebijakan dengan cermat. Atau memakai kata-kata Arendt sendiri dalam The Origins of Totalitarianism, Eichmann ibarat “anjing Pavlov dan boneka/badut tanpa jejak spontanitas sedikitpun”. [27] Dalam konteks inilah, Arendt menyebut Eichmann sebagai korban.

Arendt menggambarkan bagaimana ideologi bisa mengubah kesadaran seseorang. Ideologi adalah suatu doktrin atau prinsip yang diyakini dengan sungguh dan dipegang dengan erat, sehingga orang bisa membelanya dengan cara apa saja. Ideologi Nazi adalah sejenis ideologi totaliter yang tertutup, bukan ideologi terbuka. Menurut Arendt, yang membahayakan dari sebuah ideologi totaliter bukan konsep-konsepnya, melainkan “prinsip konsistensi logis atau proses membentuk kembali realitas untuk membuktikan kebenaran sebuah premis.” [28]

Baca Juga Deliberasi dalam Demokrasi Representatif

Sebuah ideologi totaliter mampu menciptakan realitas fiktif dalam diri penganutnya tanpa perlu referensi dengan realitas atau dunia yang sebenarnya. Ideologi totaliter merasuk pikiran dan suara hati seseorang sehingga menjadi sebuah imperatif di mana orang menunjukkan loyalitas dan kewajiban sempurna terhadapnya. Orang-orang seperti Eichmann kehilangan hati nurani dan kesadaran otentiknya karena yang berbicara dalam hati dan pikiran mereka adalah perintah ideologis dan “suara hati” rezim. Suara Eichmann adalah suara Himmler, petinggi Nazi. Keinginan dan fantasi ideologis Hitler disuarakan lewat Himmler, lalu menjadi keinginan dan fantasi Eichmann sendiri. [29] Eichmann menjalankan kewajiban atas dasar fantasi tersebut yang tidak pernah disadari sebagai kesadaran dan fantasi yang keliru.

Apakah dengan mengatakan Eichmann adalah “korban” berarti Eichmann bebas dari tanggung jawab pribadinya terhadap kejahatan? Apakah itu berarti, seperti dituduhkan banyak pemerhati Yahudi waktu itu, Arendt membela Eichmann sebagai orang yang tak bersalah? Arendt menolak anggapan itu. Arendt tetap menilai Eichmann bersalah, tetapi kesalahannya tidak terletak pada karakternya yang jahat, melainkan pada ketidakmampuannya berpikir kritis dan mandiri. Eichmann bersalah bukan karena dia berkarakter jahat, melainkan karena dia gagal memakai kebebasannya, gagal mengeksaminasi alasan-alasan keterlibatannya dalam kejahatan, dan gagal mengenal kejahatan sebagai kejahatan. Andai saja Eichmann sanggup berpikir dan memiliki imajinasi, dia akan mempertanyakan ideologi Nazi dan menentangnya meskipun resikonya berat: dia dibunuh atau dipecat dari jabatannya. 

Baca Juga Manusia dalam Ruang Dilema Eksistensi menurut Erich Fromm

Dengan demikian, terkait dengan banalitas kejahatan Eichmann dan relasinya dengan totalitarianisme, Arendt menyampaikan tiga hal berikut.

Pertama, menolak tuduhan bahwa Eichmann melakukan “kejahatan terhadap orang Yahudi”. Bagi Arendt, alasan itu kurang tepat sebab Eichmann tidak membenci orang Yahudi. Sebagai seorang idealis, Eichmann tidak memiliki kecenderungan personal untuk membunuh orang Yahudi, selain bahwa “dia setia pada tugas dan kewajibannya sebagai birokrat Nazi”. [30] Satu-satunya alasan yang tepat ialah Eichmann melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kemanusiaan melampaui ras tertentu.

Kedua, pengadilan Eichmann hanya sebuah pertunjukan, lebih karena alasan politik. Arendt menginginkan agar pengadilan itu juga memeriksa ketidakberpikiran Eichmann sebagai akar kejahatannya. [31] Eichmann telah dituduh sebagai arsitek/otak di balik Holocoust, tetapi ketidakberpikiran atau kedunguannya tidak diperiksa sama sekali.

Ketiga, pengadilan hanya menekankan tanggung jawab individual Eichmann. Dengan mempertimbangkan totalitarisme Nazi, banalitas kejahatan Eichmann bukan saja tanggung jawab individual, melainkan tanggung jawab kolektif, tanggung jawab politis sebuah bangsa. [32]

Baca Juga Partisipasi Politik: Dari “Actus Hominis” Menuju “Actus Humanus”

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, ada dua kategori penting dalam memahami banalitas kejahatan, yaitu kategori pertama, kejahatan politis yang bersifat sistematis dan kategori kedua, kejahatan akibat kegagalan berpikir.

Kategori pertama mengandung tiga karakter. Pertama, instrumental karena adanya sarana dan tujuan. Kejahatan dibenarkan atau dianggap mulia jika sesuai dengan tujuan rezim. Hakikat kejahatan itu sendiri tidak pernah dipersoalkan. Kedua, dominasi total dan teror, yaitu pembungkaman kebebasan untuk berbicara dan kritik. Di sini, manusia bukan pribadi yang bertindak, melainkan robot yang bekerja atas dasar otomatisme sistem. Ketiga, sistem totaliter bukan saja menghancurkan individu, tetapi juga menghancurkan dasar-dasar eksistensinya sehingga individu menjadi atom pucat yang mengambang (worldlessness).

Kategori kedua dari banalitas kejahatan ialah kegagalan untuk berpikir. Kegagalan berpikir menyebabkan seseorang tidak menyadari apa yang dilakukannya. [33] Dalam kaitan dengan kejahatan-kejahatan di dunia modern, hal yang paling berbahaya bukanlah memikirkan sesuatu yang tak dapat dipikirkan, melainkan tidak berpikir sama sekali. Dalam memahami fenomena kejahatan politis dan sistematis, kedua kategori ini harus dilihat bersamaan, sehingga penilaian kita tentang fenomena kejahatan bersifat integral.  

Aktivitas Berpikir dan Politik sebagai Tindakan

Untuk mengatasi banalitas kejahatan, Arendt menawarkan hal sederhana: memikirkan apa yang kita lakukan. Namun, apa itu berpikir?

Dalam The Life of Mind, Arendt memahami aktivitas berpikir sebagai dialog batin antara “aku dan diriku sendiri”. Gema Plato dan Sokrates dalam pandangan ini sangat kuat. Aktivitas berpikir, menurut Plato, adalah suatu dialog atau pembicaraan tanpa suara dengan diri sendiri, yang membuka mata pikiran untuk memandang kebenaran. [34] Dengan demikian, berpikir membantu kita melepaskan diri dari bayang-bayang yang memenjarakan kita dalam epistemologi palsu, hoaks, dan ketakwarasan-ketakwarasan lainnya. Bekas tahanan pada alegori gua Plato adalah lukisan tentang orang yang berpikir, yang menemukan kebenaran dan realitas sesungguhnya. Dalam dunia nyata, Sokrates adalah contoh figur berpikir, yang melakukan dialog intensif dengan diri sendiri sebelum berdialog dengan orang lain. Dalam kesunyian, Sokrates tidak sendiri karena dia bersama dirinya sendiri dalam suatu dialog tetap “two-in-one”, antara aku dan aku yang lain (daimon). Dialog “two-in-one” ini sering disebut juga dengan refleksi, karena itu Sokrates mengatakan, “hidup yang tidak direfleksikan tak layak untuk dihidupi”.

Baca Juga Aborsi Bukan Hanya Masalah Moral Semata: Tanggapan untuk Akri Suhardi

Ungkapan lain Sokrates tentang berpikir sebagai dialog batin ini berbunyi: “Adalah lebih baik bagiku kalau orang tidak sepaham dengan saya dan menentang saya, daripada saya bertentangan dengan diriku sendiri.” [35] Arendt sering mengulang pernyataan ini karena mengungkapkan fakta kodrati manusia bahwa “apapun yang saya lakukan di dunia di luar saya, saya mutlak kembali ke diri saya sendiri dan hidup bersamanya”. Saya tidak dapat bertentangan dengan diriku sendiri. Jika saya bertentangan dengan orang lain, saya masih bisa meninggalkan mereka. Namun, saya tak dapat meninggalkan dan bertentangan dengan diriku sendiri, kecuali kalau saya berhenti melakukan dialog batin tersebut. Sokrates sendiri adalah contoh yang paling jelas. Dia memilih menenggak racun maut daripada tunduk pada kekuasaan karena dia tidak mau menentang suara kebenaran dalam dirinya. Jadi, berpikir sebagai dialog batin dengan diri sendiri dapat mencegah orang melakukan kejahatan.

Lalu, siapa diriku yang lain itu, yang dialog dengannya mampu mencegahku melakukan kejahatan? Di sini, Arendt mengacu kepada konsep Agustinus tentang “concience” atau hati nurani. Bertolak dari pengertian Agustinus, Arendt mengatakan bahwa hati nurani, seperti yang kita pahami dalam masalah moral, selalu hadir dalam diri kita, sama seperti kesadaran. Hati nurani memberitahu kita apa yang harus kita lakukan. Sebelum hati nurani menjadi “lumen naturale” (cahaya kodrati) atau akal budi praktis (Kant), dia pertama-tama adalah suara Tuhan. [36] Oleh karena itu, hati nurani tidak sama dengan suara hati. Suara hati dapat keliru karena dia mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita sendiri, sedangkan hati nurani adalah suara Allah. Hati nurani adalah kesadaran dasar (terlepas dari pengertian dan prasangka subjektif) setiap orang untuk selalu harus memilih yang baik, jujur, adil. [37] Maka, berdialog dengan hati nurani mampu menghalangi orang melakukan kejahatan.

Dapat dikatakan, bagi Arendt, proposisi moral hendaknya ditarik dari berpikir sebagai perjumpaan dengan diri sendiri tersebut. Dengan kata lain, keputusan moral dihasilkan oleh kemampuan berpikir kritis atau dialog batin. Jadi, etika Arendt tidak legalistik/normatif. [38]

Baca Juga “Liberalisme Wajah Baru” dan Kematian Demokrasi: Sebuah Catatan Kritis untuk Emilianus Yakob Sese Tolo

Etika Arendt sangat penting agar orang bisa berpikir kritis terhadap tradisi, kewajiban atau hukum yang datang dari luar. Melalui aktivitas berpikir, seseorang mampu mengambil jarak kritis dari tradisi, kewajiban, birokrasi, aturan atau ideologi yang bertentangan dengan perintah hati nurani untuk selalu memilih yang baik, benar, dan adil.

Selain itu, etika Arendt ini juga memperlihatkan, hanya orang yang berpikir yang mampu merasa bersalah, di mana rasa bersalah ini adalah bentuk “self-contempt”, sanksi yang datang dari dalam diri. Sebaliknya, orang-orang yang dihukum dengan suatu hukuman eksternal belum tentu merasa bersalah. Eichmann menunjukkan hal tersebut. Jadi, andai Eichmann adalah manusia berpikir, dia mampu menentang perintah Nazi meskipun belisnya mahal: dia dibunuh atau dipecat.  

Arendt menambahkan aspek lain: dialog batin dengan diri sendiri dalam kesunyian tidak terlepas dari dunia bersama. Berpikir selalu bersifat representatif dan soliter karena berkaitan dengan dunia yang dihuni bersama orang lain. Supaya kita bisa berpikir tentang dunia bersama atau memberikan penilaian secara benar terhadapnya, kita perlu mengambil jarak, tetapi tidak meninggalkannya. Itu alasannya, Arendt selalu memuji Jaspers, yang sekalipun terpisah dan sendirian di masa gelap rezim Hitler, dalam kesunyian dia mampu berpikir tentang persoalan-persoalan publik yang berkaitan dengan kemanusiaan secara keseluruhan.

Baca Juga Pelajaran Berharga dari Antagonisme Trump di Tengah Demokrasi Liberal Amerika Serikat

Menurut Arendt, kegagalan berpikir representatif adalah salah satu alasan banalitas kejahatan Eichmann. Ketidakmampuan Eichmann berbicara secara benar selama persidangan terkait dengan kegagalannya untuk berpikir, yaitu berpikir dari sudut pandang orang lain. [39] Eichmann juga gagal membayangkan apa akibat tindakannya bagi orang lain. Salah satu aspek penting berpikir representatif menurut Arendt ialah – mengutip kata-kata Hobbes – “reckoning the consequences”, [40] mempertimbangkan akibat suatu tindakan bagi orang lain.

Dari paparan tentang aktivitas berpikir tersebut, menjadi jelas bahwa aktivitas berpikir tidak sama dengan “mengetahui”. Untuk membedakan keduanya, Arendt mengacu kepada distingsi Kant antara Verstand dan Verstehen, akal budi (reason) dan intelek (intellect). Menurut Arendt, “akal budi tidak mencari kebenaran, melainkan makna, di mana makna dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.”[41]

Distingsi antara “reason” dan “intellect” juga mengarah kepada perbedaan antara “memahami” dan “mengetahui”. Mengetahui berhenti pada data, sedangkan memahami berusaha menangkap makna. Orang dapat saja memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu memahami. Oleh karena itu, berpikir adalah memahami, bukan mengetahui.

Baca Juga Richard Rorty: Liberalisme Ironis dan Demokrasi

Dengan alasan ini, Arendt membedakan berpikir dari rasionalisasi. Rasionalisasi, seperti yang ditunjukkan Eichmann, bersifat dangkal karena seseorang dapat saja membenarkan tindakannya dengan mengatakan bahwa dia hanya mengikuti perintah atasan. Dengan alasan  yang sama, Arendt mengatakan bahwa “ketidakberpikiran tidak sama dengan kebodohan”. [42] Ketidakberpikiran adalah ketidakmampuan memahami, bukan kekurangan pengetahuan (kebodohan). Eichmann bukan orang bodoh, melainkan orang yang tak mampu berpikir.

Akhirnya, menurut Arendt, berpikir adalah ciri utama manusia politis. Manusia politis adalah manusia yang bertindak. Dalam Human Condition, Arendt membagi manusia dalam tiga dimensi vita activa, yaitu kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). [43] Kerja adalah suatu proses biologis yang harus terjadi karena tuntutan manusia untuk hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Di sini, manusia masih setaraf dengan binatang. Karya adalah aktivitas yang terjadi dalam hubungan instrumental: ada pola dan sarana yang dipakai untuk mencapai tujuan. Di sini, manusia setaraf dengan mesin. Dua aktivitas ini tidak menunjukkan manusia sebagai makhluk bebas dan berpikir karena pertama, seperti binatang, manusia gagal melampaui naluri kodratinya, dan kedua, seperti mesin, manusia sekadar berfungsi dan bereaksi menurut komando sebuah sistem tanpa pernah mempertanyakan secara kritis apa yang dilakukannya, seperti dengan jelas terlihat pada kasus Eichmann di atas. Berbeda dari kerja dan karya, menurut Arendt, tindakan adalah sebuah aktivitas yang lahir dari kebebasan subjek. Bertindak adalah satu-satunya vita activa karena di sana manusia tampil sebagai makhluk yang berpikir. Di masa-masa gelap kejahatan, Arendt mengingatkan kita agar menjadi manusia yang bertindak, yaitu manusia berpikir yang mampu menilai dan mengambil jarak kritis dari sistem-sistem kejahatan sehingga kita tidak terperosok ke dalam banalitas kejahatan.

Daftar Pustaka

Arendt, H. Eichmann In Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. New York: Penguin Group, 2006.

Arendt, H. The Life of Mind. New York: A Harvest Book, 1978.

Arendt, H. The Origins of Totalitarianism. New York: A Harvest Book, 1979.

Arendt, H. Essays in Understanding. New York: Schocken Books, 1994.

Arendt, H.  Responsibility and Judgment. New York: Schocken Books, 2003.

Arendt, H. The Human Condition. USA: University of Chicago Press, 1998.

Bergen, Bernard. J. The Banality of Evil: Hannah Arendt and The Final Solution. USA: Rowman & Littlefield, 1998.

Geddes, Jennifer L. “Banal Evil and Useless Knowledge: Hannah Arendt and Charlotte Delbo on Evil after the Holocaust,” dalam Jurnal Hypatia, Vol. 18, No. 1, Musim Dingin 2003.

Heidegger. Being and Time, pener. John Marcquarrie dan Edward Robinson. Oxford: Basic Blackwell, 1962.

Jeffery, Renée. “Evil and the Problem of Responsibility,” dalam Renée Jeffer (ed.), Confronting Evil in International Relations: Ethical Responses to Problems of Moral Agency. New York: Palgrave Macmillantm, 2008.

Kleden, Paul Budi. Membongkar Derita. Maumere: Penerbit Ledalero, 2006.

Koten, Yosef Keladu. Etika Keduniawiaan Hannah Arendt. Maumere: Penerbit Ledalero, 2018.

Lang, Berel.Hannah Arendt and The Politics of Evil,” dalam Judaism, Vol. 37, No. 3, 1988.

Lechte, John. Fifty Key Contemporary Thinkers: From Structuralism To Post-Humanism. Second Edition. New York: Routledge, 2008.

Magnis-Suseno, F. Etika Dasar. Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Schiff, Jacob. “The Varieties of Thoughtlessness and the Limit of Thinking,” dalam European Journal of Political Theory, 12 (2), 2012.

Villa, Dana Richard. Politics, philosophy, Terror: Essays on The Thought of Hannah Arendt. United Kingdom: Princeton University Press, 1999.


Catatan Kaki

[1] Arendt, Eichmann In Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (New York: Penguin Group, 2006), hlm. xiii.

[2] Ibid., hlm. 25.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm. 26.

[5] Ibid., hlm. 288.

[6] Arendt, The Life of Mind (New York: A Harvest Book, 1978), hlm. 14.

[7] Ibid., hlm. 191.

[8] Jacob Schiff, “The Varieties of thoughtlessness and the limit of thinking,” European Journal of Political Theory, 12 (2), 2012, hlm. 103.

[9] Ibid., hlm. 99.

[10] Yosef Keladu Koten, Etika Keduniawiaan Hannah Arendt (Maumere: Penerbit Ledalero, 2018), hlm. 6.

[11] Arendt, The Origins of Totalitarianism (New York: A Harvest Book, 1979), hlm. viii.

[12] Arendt, Eichmann in Jerusalem, op.cit., hlm. xiv.

[13] Arendt, The Origins of Totalitarianism, op.cit., hlm. 459.

[14] Berel Lang, Hannah Arendt and The Politics of Evil,” dalam Judaism, Vol. 37, No. 3, 1988, hlm. 269.

[15] Arendt, Essays in Understanding (New York: Schocken Books, 1994), hlm. 134.

[16] Heidegger, Being and Time, penerj. John Marcquarrie dan Edward Robinson (Oxford: Basic Blackwell, 1962), hlm. 332.

[17] Paul Budi Kleden, Membongkar Derita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2006), hlm. 150.

[18] Yosef Keladu Koten, op.cit., hlm. 51.

[19] Arendt, The Life of Mind, op.cit., hlm. 4.

[20] Arendt, The Origins of Totalitarianism, op.cit., hlm. 392.

[21] Ibid., hlm. 457.

[22] Arendt, Responsibility and Judgment (New York: Schocken Books, 2003), hlm. 29.

[23] Arendt, Eichmann in Jerusalem, op.cit., hlm. 21.

[24] Ibid., hlm. 288.

[25] Ibid., hlm. 254.

[26] Ibid., hlm. 247.

[27] Arendt,  The Origins of Totalitarianism, op.cit., hlm. 457.

[28] Yosef Keladu Koten, op.cit., hlm. 53.

[29] Ibid., hlm. 55.

[30] Bernard. J. Bergen, The Banality of Evil: Hannah Arendt and The Final Solution (USA: Rowman & Littlefield, 1998),  hlm. 44.

[31] Arendt, Eichmann In Jerusalem, op.cit., hlm. xiv.

[32] Ibid., hlm. 298.

[33] Yosef Keladu Koten, op.cit., hlm. 48.

[34] Arendt, The Life of Mind, op.cit., hlm. 6.

[35] Yosef Keladu Koten, op.cit., hlm. 173.

[36] Arendt, The Life of Mind, op.cit., hlm. 191.

[37] F. Magnis-Suseno, Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 77.

[38] Yosef Keladu Koten, op.cit., hlm. 174.

[39] Arendt, Eichmann in Jerusalem, op.cit., hlm. 49.

[40] Arendt, The Life of Mind, op.cit., hlm. 7.

[41] Ibid., hlm. 15.

[42] Ibid., hlm. 13.

[43] Arendt, The Human Condition (USA: University of Chicago Press, 1998), hlm. 8-9.

Hingga hari ini, para pemuja dan penjilat Orde Baru masih hidup di antara kita, bahkan masih berkuasa. Mereka ini tidak melihat kejahatan pembantaian massal 1965-1966 sebagai kesalahan yang butuh tanggung jawab moral dan permintaan maaf secara publik. Bagi mereka, itu bukan kejahatan, itu prestasi. Di situ, kejahatan politis dalam sebuah sistem yang totaliter menyimpan teka-teki yang sulit dipecahkan. Filsuf perempuan berdarah Yahudi, Hannah Arendt, seorang yang menyaksikan jutaan orang Yahudi dibantai Hitler, yang diuber-uber di Jerman lalu cari suaka di AS, berupaya memecahkan teka-teki itu dengan mengajukan konsepnya yang terkenal, yaitu banalitas kejahatan.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja

Pandemi, Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja, dan Ajaran Sosial Gereja

Dalam penerapannya, konsep fleksibilitas pasar tenaga kerja sering menimbulkan ketidakadilan bagi kaum buruh. Dengan konsep ini, buruh selalu bekerja dalam kondisi yang sangat rentan karena seringkali mereka bekerja tanpa kontrak yang jelas (tergantung pengusaha), jangka waktu kerja mereka menjadi lebih pendek, upah lebih rendah untuk jenis pekerjaan yang setara, mengalami pemerasan dari agen tenaga kerja, tidak ada tunjangan kerja, dan tidak diperbolehkan membentuk serikat tenaga kerja. Kondisi ini menyebabkan kaum buruh tidak memiliki posisi tawar terhadap perusahaan dan tidak ada pihak yang dapat membela kepentingan mereka.

Baca Selengkapnya »
Manggarai Timur

Tanjung Bendera, Kuasa Eksklusi, dan Perburuan Cuan: Membaca Kenyataan Pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur

Membaca kenyataan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tidaklah begitu menggembirakan. Hampir setiap hari kita mendapati keluh kesah warga Matim di berbagai platform media social (Medsos). Misalnya, keluhan soal kondisi infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, irigasi, air minum bersih, akses listrik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sebagian besar belum terurus dengan baik. Ditambah angka pendapatan per/kapita yang relatif masih lemah, tidaklah mengherankan jika predikat kemiskinan ekstrem itu diterima Kabupaten Matim dengan jumlah penduduk miskin ekstrem sebanyak 44.630 jiwa.

Baca Selengkapnya »

Aborsi: Suara Seorang Ibu Rumah Tangga

Dari sekian banyaknya diskusi tentang humanitas, ada bagian yang sering disalahtafsirkan, yaitu persoalan tentang aborsi. Menurut Departement of Reproductive Health and Research WHO, 22 kasus aborsi terjadi pada 1.000 perempuan dengan usia rentan 15 – 49 tahun. Oleh sebab itu, di dalam tulisan ini, Penulis tertarik untuk mengungkapkan beberapa buah pikiran perihal aborsi. Latar belakang tulisan ini adalah keresahan Penulis terhadap kurangnya pemahaman masyarakat tentang aborsi.

Baca Selengkapnya »

Teori Produksi Ruang: Pengantar Singkat Filsafat Ruang Henri Lefebvre

Kehadiran teori produksi ruang didorong oleh pembacaan, pengkajian, dan penganalisisan yang panjang dan rumit di dalam teori Marxian. Salah satu persoalan serius yang begitu mendesak dalam perkembangan objek kajian teori Marxian ialah kebutuhan akan referensi keadilan ruang sosial. Kebutuhan tersebut didasarkan pada prinsip epistemologis dari filsafat, yakni pengetahuan kritis dan progresif yang khas pada konteks sosial manusia.

Baca Selengkapnya »