Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja

Pandemi, Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja, dan Ajaran Sosial Gereja

Dalam penerapannya, konsep fleksibilitas pasar tenaga kerja sering menimbulkan ketidakadilan bagi kaum buruh. Dengan konsep ini, buruh selalu bekerja dalam kondisi yang sangat rentan karena seringkali mereka bekerja tanpa kontrak yang jelas (tergantung pengusaha), jangka waktu kerja mereka menjadi lebih pendek, upah lebih rendah untuk jenis pekerjaan yang setara, mengalami pemerasan dari agen tenaga kerja, tidak ada tunjangan kerja, dan tidak diperbolehkan membentuk serikat tenaga kerja. Kondisi ini menyebabkan kaum buruh tidak memiliki posisi tawar terhadap perusahaan dan tidak ada pihak yang dapat membela kepentingan mereka.

Baca selengkapnya »

Teori Produksi Ruang: Pengantar Singkat Filsafat Ruang Henri Lefebvre

Kehadiran teori produksi ruang didorong oleh pembacaan, pengkajian, dan penganalisisan yang panjang dan rumit di dalam teori Marxian. Salah satu persoalan serius yang begitu mendesak dalam perkembangan objek kajian teori Marxian ialah kebutuhan akan referensi keadilan ruang sosial. Kebutuhan tersebut didasarkan pada prinsip epistemologis dari filsafat, yakni pengetahuan kritis dan progresif yang khas pada konteks sosial manusia.

Baca selengkapnya »

Hannah Arendt tentang Banalitas Kejahatan

Hingga hari ini, para pemuja dan penjilat Orde Baru masih hidup di antara kita, bahkan masih berkuasa. Mereka ini tidak melihat kejahatan pembantaian massal 1965-1966 sebagai kesalahan yang butuh tanggung jawab moral dan permintaan maaf secara publik. Bagi mereka, itu bukan kejahatan, itu prestasi. Di situ, kejahatan politis dalam sebuah sistem yang totaliter menyimpan teka-teki yang sulit dipecahkan. Filsuf perempuan berdarah Yahudi, Hannah Arendt, seorang yang menyaksikan jutaan orang Yahudi dibantai Hitler, yang diuber-uber di Jerman lalu cari suaka di AS, berupaya memecahkan teka-teki itu dengan mengajukan konsepnya yang terkenal, yaitu banalitas kejahatan.

Baca selengkapnya »
Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca selengkapnya »
Pluralisme Agama

Kristus yang Dialogis sebagai Inspirasi Praktik Dialog Antaragama dalam Konteks Pluralisme Agama di Indonesia

Penulis melihat bahwa pluralisme agama pada satu sisi menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada sisi lain, ia juga membawa “malapetaka” dan pada tataran tertentu maut bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, Penulis berusaha mengajukan sarana yang memungkinkan terjadinya perdamaian dalam hidup beragama.

Baca selengkapnya »